Merespon situasi semacam ini, sebagian masyarakat berkomentar bahwa panitia inti PON Kaltim lebih berkonsentrasi pada kegiatan Pilkada ketimbang berkoordinasi mempersiapkan pelaksanaan PON. Sebagaimana dikemukakan para guru saat mengikuti seminar yang penulis isi di Samarinda hari Minggu lalu. Respon serupa juga dilontarkan Menteri Negara Pemuda & Olahraga ketika menolak usulan agar PON diundur. Mengapa ini bisa terjadi?
Selain karena jadual pelaksanaan PON dan Pilkada sangat dekat, juga karena beberapa personil panitia sedang tersandung masalah dugaan korupsi sehingga harus ditahan. Lebih dari itu, komitmen panitia untuk menyukseskan PON barangkali tidak semilitan untuk menyukseskan Pilkada. Akibat lebih lanjut dari komitmen yang rendah ini, maka koordinasi pun menjadi sulit dilaksanakan.
Itulah arti penting komitmen bagi perwujudan keberhasilan. Ia memang bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan sebuah keberhasilan. Namun tanpa komitmen, keberhasilan menjadi sulit direalisasikan. Dalam bidang dan profesi apa pun.
Coba kita tengok kembali apa yang dilakukan oleh Prof. Yohanes Surya, misalnya. Komitmen beliau untuk mengantarkan anak-anak bangsa ini agar sejajar dengan anak-anak bangsa lainnya di bidang fisika, tidak pernah kendur. Bahkan dalam situasi paling sulit sekali pun (yakni tidak cukup dana untuk mengirim tim), beliau tetap bersikukuh untuk mengirim tim olimpiade fisika kita pergi bertanding. Dan hasilnya pun sangat membanggakan kita semua.
Dalam realitas kehidupan kita, komitmen seringkali berkaitan erat dengan integritas. Artinya, pribadi-pribadi yang memiliki integritas tinggi pada umumnya menjadi pribadi yang komitmennya juga tinggi. Begitu pula sebaliknya. Bagaimana kita menemukan integritas dalam diri kita masing-masing ?
Cobalah dengan bertanya pada diri sendiri hal-hal berikut ini : apakah kita sudah bersikap apa adanya dengan diri sendiri dan dengan orang lain ? Lalu, apakah kita sudah melakukan hal yang sudah kita janjikan sebelumnya ? Jika jawaban yang kita miliki adalah ‘ya’ maka kita pantas bersyukur bahwa kita punya integritas diri yang baik, yang pada gilirannya akan melahirkan komitmen yang baik. Karena sesungguhnya komitmen itu bisa diartikan dengan ‘saya harus melakukan hal-hal yang sudah saya sanggupi atau saya targetkan’, terlepas dari apakah ada pengawasan atau tidak, ada penilaian atau tidak.
HD. Iriyanto
(Direktur GIM – HRD Training Centre Jogja dan Motivator & Inspirator Religiospiritual)
Selengkapnya.....
Selain karena jadual pelaksanaan PON dan Pilkada sangat dekat, juga karena beberapa personil panitia sedang tersandung masalah dugaan korupsi sehingga harus ditahan. Lebih dari itu, komitmen panitia untuk menyukseskan PON barangkali tidak semilitan untuk menyukseskan Pilkada. Akibat lebih lanjut dari komitmen yang rendah ini, maka koordinasi pun menjadi sulit dilaksanakan.
Itulah arti penting komitmen bagi perwujudan keberhasilan. Ia memang bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan sebuah keberhasilan. Namun tanpa komitmen, keberhasilan menjadi sulit direalisasikan. Dalam bidang dan profesi apa pun.
Coba kita tengok kembali apa yang dilakukan oleh Prof. Yohanes Surya, misalnya. Komitmen beliau untuk mengantarkan anak-anak bangsa ini agar sejajar dengan anak-anak bangsa lainnya di bidang fisika, tidak pernah kendur. Bahkan dalam situasi paling sulit sekali pun (yakni tidak cukup dana untuk mengirim tim), beliau tetap bersikukuh untuk mengirim tim olimpiade fisika kita pergi bertanding. Dan hasilnya pun sangat membanggakan kita semua.
Dalam realitas kehidupan kita, komitmen seringkali berkaitan erat dengan integritas. Artinya, pribadi-pribadi yang memiliki integritas tinggi pada umumnya menjadi pribadi yang komitmennya juga tinggi. Begitu pula sebaliknya. Bagaimana kita menemukan integritas dalam diri kita masing-masing ?
Cobalah dengan bertanya pada diri sendiri hal-hal berikut ini : apakah kita sudah bersikap apa adanya dengan diri sendiri dan dengan orang lain ? Lalu, apakah kita sudah melakukan hal yang sudah kita janjikan sebelumnya ? Jika jawaban yang kita miliki adalah ‘ya’ maka kita pantas bersyukur bahwa kita punya integritas diri yang baik, yang pada gilirannya akan melahirkan komitmen yang baik. Karena sesungguhnya komitmen itu bisa diartikan dengan ‘saya harus melakukan hal-hal yang sudah saya sanggupi atau saya targetkan’, terlepas dari apakah ada pengawasan atau tidak, ada penilaian atau tidak.
HD. Iriyanto
(Direktur GIM – HRD Training Centre Jogja dan Motivator & Inspirator Religiospiritual)
